![]() |
| Firdaus Hasbullah saat pimpin demostrasi tuntutan reformasi 98 di depan Markas Kodam II/Sriwijaya |
PALI,retromedia.id- Zaman modern yang serba canggih, eksistensi anak muda di daerah asal menjadi kunci penentu arah pembangunan. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Firdaus Hasbullah S.H., M.H. saat menyoroti peran strategis generasi muda dan aktivisme mahasiswa dalam konteks pembangunan daerah.
Menurut Firdaus, tanah kelahiran bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang perjuangan yang menuntut keberanian pikiran dan tenaga. Ia menekankan bahwa anak muda, khususnya mahasiswa asal Bumi Serepat Serasan, tidak boleh tercerabut dari akar identitasnya.
“Tanah kelahiran adalah tempat di mana identitas, sejarah, dan masa depan berkelindan. Anak muda harus menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar penonton. Berjuang di tanah sendiri adalah investasi harapan jangka panjang untuk memperbaiki sistem dan memperkuat nilai keadilan,” ujar Firdaus, pada Rabu (4/3/2026).
Firdaus juga memberikan apresiasi khusus terhadap keberadaan Forum Mahasiswa PALI (Formapali) Jabodetabek. Bagi beliau, forum ini merupakan simbol bahwa kesadaran kolektif anak muda masih menyala.
Namun, ia tidak menampik bahwa gerakan kritis mahasiswa seringkali membuat pihak-pihak yang berkuasa merasa tidak nyaman. Tekanan, stigma, hingga upaya meredam suara kritis menjadi tantangan nyata yang dihadapi aktivis saat ini.
“Eksistensi Formapali sangat penting sebagai penyeimbang demokrasi. Jangan gentar terhadap tekanan atau intimidasi. Sejarah membuktikan perubahan besar lahir dari keberanian pemuda yang teguh prinsip. Kekuatan terbesar mahasiswa bukan pada kekuasaan, tapi pada konsistensi sikap dan kejernihan pikiran,” tegas Firdaus.
Membandingkan era Reformasi 1998 dengan masa kini, Firdaus menjelaskan adanya evolusi dalam dunia aktivisme. Jika dahulu gerakan identik dengan mobilisasi massa besar-besaran di jalanan, maka aktivis masa kini dituntut memiliki kecerdasan yang lebih kompleks.
Tantangan hari ini, menurutnya, jauh lebih halus namun berbahaya, seperti disinformasi, delegitimasi gerakan melalui opini digital, hingga tekanan sosial yang sistematis.
“Menjadi aktivis hari ini tidak harus selalu keras, tapi wajib cerdas. Perjuangan kini merambah ke ruang diskusi, riset, media, dan advokasi berbasis data. Ini adalah bentuk evolusi gerakan, bukan pelemahan,” jelas Firdaus. (Red)
Editor: Sendi
